Kamis, 18 April 2013

Perjalanan di G. Argopuro Bagian Petama

Daripada bengong gak karuan mending ane corat-coret di blog ini. Hitung-hitung berbagi pengalaman, cerita, kisah ketika uklam-uklam (jalan-jalan) ke salah satu gunung yang ada di Provinsi Jawa Timur ini, yaitu Gunung Argopuro.
Kenapa ane mengambil pengalaman ini untuk ane bagikan? Salah satu alasannya adalah begitu indahnya pemandangan yang disajikan oleh Gunung Argopuro, yang tidak bisa dilupakan sampai sekarang. Gunung Argopuro adalah gunung ke tiga yang ane kunjungi setelah Gunung Arjuno dan Gunung Welirang.
Gunung Argopuro dengan ketinggian 3.088m dpl, secara administratif terletak di perbatasan Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Jember, dan Kabupaten Situbondo. Secara geografis terletak antara 8000’ - 8030’ LS dan 113030’ - 113045’ BT. Gunung Argopuro berada di jajaran dataran tinggi Hyang. Gunung ini memiliki banyak puncak akan tetapi di kalangan pendaki ada dua puncak yang popular yaitu Puncak Rengganis dan Argopuro.
Pendakian ini di mulai pada hari Sabtu, 23 Januari 2010 dan 8 orang ikut serta dalam pendakian ini, diantaranya ane, adik ane, ebes ane, Ahmad (temen ane), Pandu, Rezky (dua nama tersbut temen adik ane), dan dua teman ebes ane yaitu Mas Habibi sama Mas Mujib.  Kami berdelapan sepakat untuk memulai pendakian ini melalui jalur Bremi (Probolinggo) dan turun di Baderan (Situbondo). Untuk malam yang pertama kami menginap di pangkalan bus Akas yang sudah lama tidak beroperasi lagi dan bus Akas tersebut yang akan membawa kami ke Bremi, start awal kami. Di pangkalan bus ini kami mempersiapkan segala sesuatunya untuk menempuh perjalanan hampir seminggu lamanya. Setelah pagi menjelang kurang lebih pukul 06.15 WIB kami bertujuh melakukan packing untuk menuju Bremi tentunya dengan naik bus Akas yang kecil.
Ketika  sampai di Bremi kami menuju kantor polisi yang sekaligus tempat untuk melakukan perijinan, setelah semua prosedur perijinan sudah selesai kami mencari warung untuk memenuhi hak perut kami. Saat sedang menikmati sarapan nasi campur dan segelas kopi ada seseorang warga yang bertanya ke kami “mau kesana (Argopuro) lewat jalur ini ya mas ? hati-hati ya, soalnya jalur ini jarang dilewati para pendaki”. Kami pun hanya bengong dan mengeluarkan keringat dingin.

Jam dinding warung sudah menunjukkan pukul 09.15 WIB, serta merta kami bergegas untuk membayar makanan, persiapan dan berdo’a guna diberikan oleh Allah SWT kemudahan dan kelancaran di pendakian kali ini. Di awal perjalanan kami sudah disuguhi oleh perkebunan milik warga sekitar dan hutan lindung, ketika di tengah perjalanan ada seorang nenek yang mengingatkan kami “ati-ati le, ojo macem-macem” (hati-hati nak, jangan aneh-aneh), kami serempak menjawab “nggeh bu, matur nuwun” (iya bu, terima kasih). 



Waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 WIB kami beristirahat sejenak di hutan pinus untuk meregangkan otot-otot kaki yang sudah terasa capek berjalan dan sambil menikmati indahnya ciptaan Sang Maha Pencipta. Capek hilang, semangat datang  dan kami meneruskan perjalanan ke Danau Taman Hidup, pos bermalam kedua setelah pangkalan bus Akas. Kaki-kaki kami mulai melangkah, setapak demi setapak kami lewati di tengah pohon-pohon pinus yang tinggi menjulang serta semak-semak yang rimbun. Baru satu jam perjalanan langit mulai gelap tertutupi mendung yang pekat, kami bergegas mengeluarkan rain coat yang ada di dalam tas carier masing-masing, tidak berselang lama gerimis mulai turun disusul petir yang menyambar tidak karuan. Meskipun sudah turun air dari langit semangat kami tidak ikut turun, yang ada kami semakin bersemangat untuk segera sampai di Danau Taman Hidup.
Jalan setapak yang kami lalui semakin licin dan menanjak dikarenakan terkena air hujan yang turun semakin deras, kami hanya bisa berpasrah kepadaNya dan tetap melangkah lurus ke depan. Dingin mulai menusuk tulangku, kaki mulai kram,hujan semakin deras, petir semakin menggila tapi aku tetap berusaha untuk tetap berjalan. Mengingat cuaca yang semakin tidak bersahabat kami memperbanyak istirahat untuk memulihakn kondisi, disaat istirahat aku tidak menyangka kalau ada lintah di kaki, dari bentuknya yang besar lintah itu sepertinya sudah lumayan lama menghisap darahku. Salah satu rekan mengambil daun tembakau dari dalam tasnya untuk di taburkan di sekitar lintah yang menempal di kakiku. Masalah lintah sudah teratasi dan kami melanjutkan perjalanan di tengah hutan yang masih perawan, eksotis, dan  alami. 
Waktu tidak terasa sudah sore, jam ditangan pun sudah menunjukkan pukul 16.18 WIB tapi sampai saat itu pos Danau Taman Hidup juga belum kelihatan. Tanpa aku sadari, aku berkata dalam hati “apa kita dipermainkan di dalam hutan yang lebat ini ?”, sesaat berkata seperti itu aku mencoba untuk membuang jauh-jauh pikiran tersebut dan terus berdo’a kepadaNya. Jalan setapak yang semakin terjal dan licin terus kami lewati, belokan-belokan sudah kami ikuti tapi belum juga kelihatan danau yang di maksud.
Hari semakin malam dan hujan juga tidak kunjung reda, kami bersyukur akhirnya danau itu terlihat juga. Di danau inilah kami putuskan untuk bermalam. Tas telah diturunkan, saatnya untuk mendirikan tenda. Berlahan-lahan hujan mulai reda seiring redanya matahari yang menerangi bumi, kami masih sibuk untuk mendirikan tenda dan menyiapkan makan malam. Perjalanan antara Bremi hingga Danau Taman Hidup kami tempuh kurang lebih tujuh jam. Waktu menunjukkan pukul 17.45 WIB saatnya untuk sholat jama’ qoshor Magrib-Isya’. Setelah selesai sholat dan makan malam kami istirahat untuk memulihkan kondisi fisik untuk perjalanan esok hari dengan tujuan Cisentor yang tak kalah menarik dari perjalanan ke Danau Taman Hidup.
Sekian dulu untuk bagian pertama ini. Kalau penasaran tunggu perjalanan di Argopuro bagian kedua..hehehe  ^_^

7 komentar:

Unknown mengatakan...

asek... asek...
di tunggu postingan puncak gunung k

Unknown mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
joe mengatakan...

widih pemandanagn nya bagus banget gan...!

obat darah tinggi herbal mengatakan...

mantap dah, kapan nih ngajak ngajak ane..? he

Unknown mengatakan...

@joe : bener gan, ini masih awal belum berakhir keindahan di gungung ini.

@obat : low ke argopuro lagi kayaknya dah gk mungkin gan, tpi insya Allah tgl 23 Juni besok mau ke semeru..hehe

Unknown mengatakan...

oyi brad,. ditunggu aja.. :)

Unknown mengatakan...

waaah dari postingannya bikin penasaran untuk melihatnya, meski itu dalam bentuk sebuah photo, tapi sayangnya kok dari sini gak bisa dilihat ya itu photonya, Tegar?

Posting Komentar

Kamis, 18 April 2013

Perjalanan di G. Argopuro Bagian Petama

Daripada bengong gak karuan mending ane corat-coret di blog ini. Hitung-hitung berbagi pengalaman, cerita, kisah ketika uklam-uklam (jalan-jalan) ke salah satu gunung yang ada di Provinsi Jawa Timur ini, yaitu Gunung Argopuro.
Kenapa ane mengambil pengalaman ini untuk ane bagikan? Salah satu alasannya adalah begitu indahnya pemandangan yang disajikan oleh Gunung Argopuro, yang tidak bisa dilupakan sampai sekarang. Gunung Argopuro adalah gunung ke tiga yang ane kunjungi setelah Gunung Arjuno dan Gunung Welirang.
Gunung Argopuro dengan ketinggian 3.088m dpl, secara administratif terletak di perbatasan Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Jember, dan Kabupaten Situbondo. Secara geografis terletak antara 8000’ - 8030’ LS dan 113030’ - 113045’ BT. Gunung Argopuro berada di jajaran dataran tinggi Hyang. Gunung ini memiliki banyak puncak akan tetapi di kalangan pendaki ada dua puncak yang popular yaitu Puncak Rengganis dan Argopuro.
Pendakian ini di mulai pada hari Sabtu, 23 Januari 2010 dan 8 orang ikut serta dalam pendakian ini, diantaranya ane, adik ane, ebes ane, Ahmad (temen ane), Pandu, Rezky (dua nama tersbut temen adik ane), dan dua teman ebes ane yaitu Mas Habibi sama Mas Mujib.  Kami berdelapan sepakat untuk memulai pendakian ini melalui jalur Bremi (Probolinggo) dan turun di Baderan (Situbondo). Untuk malam yang pertama kami menginap di pangkalan bus Akas yang sudah lama tidak beroperasi lagi dan bus Akas tersebut yang akan membawa kami ke Bremi, start awal kami. Di pangkalan bus ini kami mempersiapkan segala sesuatunya untuk menempuh perjalanan hampir seminggu lamanya. Setelah pagi menjelang kurang lebih pukul 06.15 WIB kami bertujuh melakukan packing untuk menuju Bremi tentunya dengan naik bus Akas yang kecil.
Ketika  sampai di Bremi kami menuju kantor polisi yang sekaligus tempat untuk melakukan perijinan, setelah semua prosedur perijinan sudah selesai kami mencari warung untuk memenuhi hak perut kami. Saat sedang menikmati sarapan nasi campur dan segelas kopi ada seseorang warga yang bertanya ke kami “mau kesana (Argopuro) lewat jalur ini ya mas ? hati-hati ya, soalnya jalur ini jarang dilewati para pendaki”. Kami pun hanya bengong dan mengeluarkan keringat dingin.

Jam dinding warung sudah menunjukkan pukul 09.15 WIB, serta merta kami bergegas untuk membayar makanan, persiapan dan berdo’a guna diberikan oleh Allah SWT kemudahan dan kelancaran di pendakian kali ini. Di awal perjalanan kami sudah disuguhi oleh perkebunan milik warga sekitar dan hutan lindung, ketika di tengah perjalanan ada seorang nenek yang mengingatkan kami “ati-ati le, ojo macem-macem” (hati-hati nak, jangan aneh-aneh), kami serempak menjawab “nggeh bu, matur nuwun” (iya bu, terima kasih). 



Waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 WIB kami beristirahat sejenak di hutan pinus untuk meregangkan otot-otot kaki yang sudah terasa capek berjalan dan sambil menikmati indahnya ciptaan Sang Maha Pencipta. Capek hilang, semangat datang  dan kami meneruskan perjalanan ke Danau Taman Hidup, pos bermalam kedua setelah pangkalan bus Akas. Kaki-kaki kami mulai melangkah, setapak demi setapak kami lewati di tengah pohon-pohon pinus yang tinggi menjulang serta semak-semak yang rimbun. Baru satu jam perjalanan langit mulai gelap tertutupi mendung yang pekat, kami bergegas mengeluarkan rain coat yang ada di dalam tas carier masing-masing, tidak berselang lama gerimis mulai turun disusul petir yang menyambar tidak karuan. Meskipun sudah turun air dari langit semangat kami tidak ikut turun, yang ada kami semakin bersemangat untuk segera sampai di Danau Taman Hidup.
Jalan setapak yang kami lalui semakin licin dan menanjak dikarenakan terkena air hujan yang turun semakin deras, kami hanya bisa berpasrah kepadaNya dan tetap melangkah lurus ke depan. Dingin mulai menusuk tulangku, kaki mulai kram,hujan semakin deras, petir semakin menggila tapi aku tetap berusaha untuk tetap berjalan. Mengingat cuaca yang semakin tidak bersahabat kami memperbanyak istirahat untuk memulihakn kondisi, disaat istirahat aku tidak menyangka kalau ada lintah di kaki, dari bentuknya yang besar lintah itu sepertinya sudah lumayan lama menghisap darahku. Salah satu rekan mengambil daun tembakau dari dalam tasnya untuk di taburkan di sekitar lintah yang menempal di kakiku. Masalah lintah sudah teratasi dan kami melanjutkan perjalanan di tengah hutan yang masih perawan, eksotis, dan  alami. 
Waktu tidak terasa sudah sore, jam ditangan pun sudah menunjukkan pukul 16.18 WIB tapi sampai saat itu pos Danau Taman Hidup juga belum kelihatan. Tanpa aku sadari, aku berkata dalam hati “apa kita dipermainkan di dalam hutan yang lebat ini ?”, sesaat berkata seperti itu aku mencoba untuk membuang jauh-jauh pikiran tersebut dan terus berdo’a kepadaNya. Jalan setapak yang semakin terjal dan licin terus kami lewati, belokan-belokan sudah kami ikuti tapi belum juga kelihatan danau yang di maksud.
Hari semakin malam dan hujan juga tidak kunjung reda, kami bersyukur akhirnya danau itu terlihat juga. Di danau inilah kami putuskan untuk bermalam. Tas telah diturunkan, saatnya untuk mendirikan tenda. Berlahan-lahan hujan mulai reda seiring redanya matahari yang menerangi bumi, kami masih sibuk untuk mendirikan tenda dan menyiapkan makan malam. Perjalanan antara Bremi hingga Danau Taman Hidup kami tempuh kurang lebih tujuh jam. Waktu menunjukkan pukul 17.45 WIB saatnya untuk sholat jama’ qoshor Magrib-Isya’. Setelah selesai sholat dan makan malam kami istirahat untuk memulihkan kondisi fisik untuk perjalanan esok hari dengan tujuan Cisentor yang tak kalah menarik dari perjalanan ke Danau Taman Hidup.
Sekian dulu untuk bagian pertama ini. Kalau penasaran tunggu perjalanan di Argopuro bagian kedua..hehehe  ^_^

7 komentar:

  1. asek... asek...
    di tunggu postingan puncak gunung k

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. widih pemandanagn nya bagus banget gan...!

    BalasHapus
  4. mantap dah, kapan nih ngajak ngajak ane..? he

    BalasHapus
  5. @joe : bener gan, ini masih awal belum berakhir keindahan di gungung ini.

    @obat : low ke argopuro lagi kayaknya dah gk mungkin gan, tpi insya Allah tgl 23 Juni besok mau ke semeru..hehe

    BalasHapus
  6. waaah dari postingannya bikin penasaran untuk melihatnya, meski itu dalam bentuk sebuah photo, tapi sayangnya kok dari sini gak bisa dilihat ya itu photonya, Tegar?

    BalasHapus